Ingat, Jangan Lambat di Lajur Kanan Tol

Febri Ardani Saragih - Sabtu, 24 Juni 2017 | 16:17 WIB
Kendaraan pemudik terpantau ramai keluar di Gerbang Tol Salatiga, Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (21/6/2017). Pemudik berasal dari Jalan Tol Bawen-Salatiga yang sudah difungsionalkan pada H-7.
KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES
Kendaraan pemudik terpantau ramai keluar di Gerbang Tol Salatiga, Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (21/6/2017). Pemudik berasal dari Jalan Tol Bawen-Salatiga yang sudah difungsionalkan pada H-7.

Cirebon, Otomania.com – Saat mudik ada banyak kendaraan yang melintas di satu badan jalan. Semuanya punya kepentingan masing-masing, namun jangan sampai lupa keselamatan yang paling utama.

Pemudik yang melintas di jalan tol sudah pasti harus menaati peraturan. Sangat disarankan tidak melakukan prilaku yang membahayakan seperti parkir di pinggir jalan bukan dalam kondisi darurat, menyalip dari kiri, atau yang juga sering terjadi yaitu lambat di lajur paling kanan.

Lajur paling kanan fungsinya untuk mendahului kendaraan lain. Tentunya saat mendahului sesuai dengan batas kecepatan tertinggi yang berlaku, bisa 60 kpj, 80 kpj, atau 100 kpj.

Polisi ingatkan pemudik yang istirahat di bahu jalan tol
istimewa
Polisi ingatkan pemudik yang istirahat di bahu jalan tol
Hindari berkendara di lajur paling kanan namun dengan kecepatan rendah. Hal itu sangat berbahaya sebab berpotensi menyebabkan kecelakaan sekaligus macet. Pengemudi diharapkan memberikan jalan buat pengemudi lain yang ingin mendahului sesuai batas kecepatan yang berlaku.

“Sebenarnya pada saat pengajuan SIM itu, materinya ada di situ. Bagaimana belajar tentang arus, lajur kanan adalah untuk mendahului,” ucap Kombes Pol. Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah Dr. Baharuddin Muhammadsyah, SH, SIK, M.Si, di Gerbang Tol Brebes Timur, Jumat (23/6/2017).

Masyarakat berdagang di pinggir Jalan Tol
istimewa
Masyarakat berdagang di pinggir Jalan Tol
Baharuddin mengatakan para pengguna jalan harus mulai menghilangkan “budaya masa bodoh” di jalanan. Sikap egois di jalanan tidak menunjukan pengemudi yang layak punya SIM.

“Saya juga selalu sampaikan, lajur kanan bukan untuk bus atau truk yang berat-berat. Itu selalu kami usir dari mobil patroli. Ini harus ada kerja sama, seharusnya kurikulum berlalu lintas diberlakukan, jadi (pengetahuan berlalu lintas) tidak hanya instan waktu mau bikin SIM,” ucap Baharuddin. 

Editor : Agung Kurniawan

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X