Lika-liku Knalpot Purbalingga, Awalnya Jauh dari Perknalpotan Duniawi

Adi Wira Bhre Anggono - Sabtu, 20 Juni 2020 | 16:30 WIB

Ilustrasi pengrajin knalpot di Kabupaten Purbalingga (Adi Wira Bhre Anggono - )

Baru pada tahun 1980-an, warga setempat, Sultoni berinovasi dengan mengawali memproduksi knalpot sepeda motor dan mobil.

Industri itu nyatanya terus berkembang.

Pada tahun 1990-an, industri kecil itu mulai menyebar ke kelurahan atau desa sekitarnya di Kabupaten Purbalingga.

Menariknya, knalpot Purbalingga sebagian besar dibuat secara handmade alias kerajinan tangan.

Hanya dalam perkembangannya, saat ini perajin juga memanfaatkan peralatan produksi seperti mesin pound, banding, dan cutting untuk meningkatkan kualitas knalpot.

Baca Juga: Bodinya Mirip Banget Sama NMAX, Tapi Bukan Keluaran Yamaha, Skutik Buatan Negeri Tetangga Nih!

Pengembangan industri knalpot di Purbalingga kemudian difokuskan pada peningkatan kualitas produksi knalpot handmade untuk konsumen after market atau end user.

"Dan peningkatan manajemen produksi sehingga terdapat link and match IKM knalpot dengan industri otomotif atau Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM)," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Purbalingga, Sidik Purwanto, Kamis (28/11/2019).

Beberapa waktu yang lalu, ATPM Toyota dan Honda melalui Yayasan Dana Bakti Astra atau YDBA bahkan telah berkunjung ke Purbalingga dan menjajaki kerjasama dengan industri kecil knalpot.

Baca Juga: Ngintip Harga Xpander Bekas, Rp 160 Juta Bisa Dapat Lansiran Tahun 2017

Ini tentu merupakan peluang besar bagi industri knalpot Purbalingga untuk meningkatkan pemasaran ke ATPM, di samping pasar end user yang selama ini menjadi andalan pemasaran industri knalpot Purbalingga.

Diharapkannya, tahun depan sudah terdapat IKM Knalpot Purbalingga yang bekerja sama dengan ATPM.

Ia menjelaskan, melalui kegiatan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perindustrian sejak Tahun 2017, sedang dibangun Lingkungan Industri Kecil (LIK) berupa UPT Pengembangan Industri Logam (Pilog) dengan anggaran mencapai Rp 40 miliar.

Baca Juga: Newbie Wajib Tahu, Motor Trail Disarankan Ganti Oli Mesin Tiap Habis Diajak Trabasan, Ini Kata Dedengkot Bengkel

"Saat ini telah terbangun kantor UPT beserta aula, ruang rapat, show room dan workshop UPT, sedangkan bagi IKM telah dibangun 18 unit workshop atau ruang kerja yang disewakan ke IKM," jelasnya.

Pada tahun 2019 ini, sedang dibangun 21 workshop IKM beserta sarana penunjang berupa musala dan foodcourt, serta pengadaan mesin dan peralatan produksi untuk pelayanan UPT.

Pembangunan diharapkan selesai pada akhir Desember 2019.

Ke depan, UPT Pilog disamping sebagai pusat produksi logam, terutama knalpot juga dapat menjadi obyek wisata edukatif dan tempat bagi komunitas otomatif.

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul "Sejarah Knalpot Purbalingga: Bermula dari Industri Seng dan Drum Pembuatan Alat Rumah Tangga".