Performa Mitsubishi Xpander di Tanjakan Sumatera Barat

Donny Apriliananda - Rabu, 29 November 2017 | 17:56 WIB

Mitsubishi Xpander di Kelok Sembilan, Sumatera Barat (Donny Apriliananda - )

Otomania.com - Mitsubishi ditantang untuk menaklukkan "handicap" lain. Kali ini, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MKSI) mengajak beberapa jurnalis untuk merasakan sensasi jalan berliku khas Sumatera Barat.

Xpander diajak untuk berpetualang di kontur jalan Ranah Minang, dengan kondisi jalan beragam. Tantangannya, dari kota Padang menuju Kelok Sembilan di Payakumbuh, dengan total jarak sekitar 137 km.

Total perjalanan pulang pergi mencapai hampir 300 km ini dilakukan langsung dalam satu hari penuh.

Perjalanan ini memberikan tantangan tersendiri buat Xpander. Kondisi aspal sebenarnya relatif mulus, hanya jalan tidak terlalu lebar dengan lalu-lintas dua arah. Ditambah banyaknya tikungan tajam plus tanjakan atau turunan terjal.

Baca: Januari Tahun Depan, Harga Xpander Pasti Naik

Handling
Sektor handling menjadi salah satu kelebihan buat low MPV terbaru Mitsubishi tersebut. Didukung dengan sistem supensi yang menggunakan teknologi Evo X, Xpander mereduksi gejala limbung dan body roll saat bermanuver kencang atau melibas tikungan tajam.

Sebagai catatan, lingkar kemudi Xpander terasa sangat enteng dan sensitif. Untuk perjalanan dalam kota yang membutuhkan kecepatan dalam bermanuver di lalu-lintas padat, ini bisa memberikan poin positif berkat fitur electric power steering (EPS).

Namun, bila di perjalanan luar kota, pengemudi perlu ekstra hati-hati dalam melakukan gerakan manuver, agar mobil bisa dikendalikan secara maksimal.

Azwar Ferdian/KompasOtomotif
Tes Mitsubishi Xpander di Sumatera Barat

Sepanjang perjalanan, Xpander bertemu dengan kontur jalan menanjak. Tipe Ultimate diuji dengan transmisi matik empat percepatan. Transmisi itu menjadi pengubung antara mesin berkapasitas 1,5 liter dengan daya 103,5 tk pada putaran mesin 6.000 rpm dan torsi 141 Nm pada 4.000 rpm, ke roda depan.

Buat melibas tanjakan membutuhkan akselerasi instan lebih dengan torsi maksimal yang baru terasa pada putaran 4.000 rpm. Akibatnya, suara raungan mesin masuk ke dalam kabin.

Xpander masih menggunakan transmisi model konvensional atau belum memakai model CVT, hingga ada sedikit gejala "lemot" bila bertemu tanjakan. Penguji tidak memaksa untuk terus memakai transmisi di posisi D dengan melakukan tekanan lebih pada pegal gas (kick down).

Bila membutuhkan daya lebih, perlu override untuk menurunkan level transmisi satu tingkat buat mendapat tenaga lebih dan akselerasi efektif. Namun, suara mesin akan meraung lebih keras.

Gaya berkendara seperti ini memiliki konsekuensi pada konsumsi bahan bakar. Putaran mesin di angka lebih dari 3.000 rpm membuat bahan bakar akan terasa lebih boros. Catatan pada MID, rata-rata konsumsi bahan bakar Xpander selama perjalanan adalah 9,8 kpl. Tetapi itu terbayarkan dengan mendapatkan akselerasi maksimal.