Toyota: Lebih Mudah Edukasi Hibrida Ketimbang Listrik

Febri Ardani Saragih - Minggu, 27 Agustus 2017 | 16:05 WIB

Toyota C-HR produksi Jepang dengan mesin 1.8L hibrida, diperkenalkan di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017. (Febri Ardani Saragih - )

Jakarta, Otomania.com – Ada banyak pengembangan teknologi otomotif global, lalu mana yang cocok buat Indonesia? Menurut Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) paling sesuai untuk saat ini adalah hibrida.

Alasannya, seperti diungkapkan, Bob Azam, Direktur Administrasi PT TMMIN, Jumat (19/8/2017), hibrida tidak membutuhkan infrastuktur seperti teknologi mobil listrik. Infrastruktur yang dimaksud misalnya pembangunan stasiun pengisian energi baterai.

“Kami bilang hibrida itu karena tidak membutuhkan infrastruktur seperti listrik, sehingga lebih mudah mengedukasi konsumen. Listrik itu sama saja dengan gas,” kata Bob.

Hibrida dirasa lebih mudah diadaptasi konsumen sebab pemakaiannya tidak jauh beda dengan mobil bermesin konvensional. Konsumen tetap perlu mengisi bahan bakar untuk mesin konvensional.

Febri Ardani/Otomania.com
Toyota Prius generasi keempat meluncur di Gaikindo Indonesia Auto Show (GIIAS) 2017.
Sementara itu penggunaan mobil listrik dikatakan membuat kebiasaan konsumen berubah. Misalnya, konsumen tidak lagi mencari stasiun pengisian bahan bakar tetapi listrik. Selain itu, konsumen juga harus paham mengisi baterai sampai penuh membutuhkan waktu sampai berjam-jam.

Di berbagai negara yang otomotifnya sudah maju, hibrida memang hanya digunakan sebagai peralihan. Tujuan akhirnya menuju era mobil listrik atau hidrogen.