Mobil Nasional Tak Minta Dimanja Pemerintah

Febri Ardani Saragih - Jumat, 31 Maret 2017 | 13:12 WIB

Mobil Fin Komodo yang dipersiapkan ikut pameran IIMS 2016 (Febri Ardani Saragih - )

Jakarta, Otomania.com – Dari banyak industri lokal yang pernah menggarap mobil nasional (mobnas), kini hanya tinggal segelintir yang masih bertahan. Salah satunya Fin Komodo, produsen kendaraan off-road.

Fin Komodo sampai sekarang masih mengembara dengan modal industri yang jalan perlahan tapi stabil. Setiap bulannya produksi kendaraaan bisa dilakukan 10 unit. Kuota itu cukup agar 30 orang karyawannya bisa terus bekerja.

Fin Komodo adalah satu-satunya merek mobnas anggota Asianusa (Asosiasi Industri Automotif Nusantara) yang masih bertahan. Tujuh lainnya, yaitu, Kancil, Wakaba, GEA, AG-Tawon, Merapi, Boneo, dan mesin ITM, ambruk tanpa “imunisasi” dari pemerintah.

https://mobnasgea.blogspot.co.id
Mobil nasional (mobnas) GEA.
Asianusa pernah meminta kepada pemerintah agar industri murni lokal yang menggarap mobnas bermesin 1.000cc ke bawah diproteksi. Namun jawabannya, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Low Cost Green Car (LCGC).

Dewa Yuniardi, Ketua Bidang Pemasaran dan Hubungan Asianusa, menjelaskan, asosiasi kini sudah tidak mau lagi meminta-minta. Industri mobnas murni lokal bakal terus berjuang.

“Terakhir itu kami minta kepada pemerintah, mobil kami dibeli saja. Tidak usah dibuatkan kebijakan. Dibeli saja sesuai kebutuhan, misalnya untuk instansi,” kata Dewa.

Kondisi Asianusa kini sedang “tidur” sebut Dewa. Sebab cuma Fin Komodo yang bergerak.

“Dengan segala keterbatasan, tidak didukung pun tidak apa-apa. Hal yang penting kami terus bergerak, ya seperti komodo saja filosofinya, pelan tapi sampai,” ucap Dewa.