Dampak "Mobil Premium" Konsumsi Premium

Stanly Ravel - Selasa, 5 Juli 2016 | 17:11 WIB

(Stanly Ravel - )

Jakarta, Otomania - Krisis BBM di jalur mudik nampaknya sedang menjadi sorotan utama, akibat dari suplai bahan bakar yang terjebak macet membuat sebagian SPBU tidak memiliki stok cukup. Kondisi ini membuat pemudik resah karena tidak sedikit yang harus mogok karena tidak ada suplai BBM.

Bicara pemudik yang mengendarai mobil premium atau mewah yang memiliki standar mesin kompresi tinggi, membutuhkan konsumsi bensin non subsidi. Situasional seperti ini kerap melanda pengguna mobil premium kala mudik. Belum meratanya pasokan BBM berkualitas tinggi membuat opsi pemaksaan mengonsumsi BBM bersubsidi dilakukan.

Tetapi, apakah ini boleh dilakukan dan apa dampak yang akan ditimbulkan ?

"Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai anjuran pabrikan terutama untuk mobil mewah apalagi yang memiliki standar Euro 4 tentu sangat berpengaruh pada performa. Contoh biasanya mobil gas sedikit saja sudah responsif, tapi saat isi oktan lebih rendah tarikan jadi lebih lamban dan berat," ucap Logistic and Production General Manager PT Kia Mobil Indonesia (KMI) Arifani Perbowo, saat dihubungi Otomania, Selasa (5/7/2016).

Kondisi ini disebabkan karena sistem pembakaran yang tidak sempurna akibat penggunaan BBM yang tidak sesuai karakteristik mesin. Bahkan akan lebih parah bila terus menerus menggunakannya.


Menurut Arifani, mobil premium modern saat ini sudah dilengkapi dengan sensor O2 (oksigen) pada katalitik konverter. Fungsi dari sensor O2 sendiri adalah untuk mendeteksi jumlah oksigen dalam gas buang dan mengirim sinyal ke electronic control module (ECM) dan mengatur campuran bahan bakar udara ke tingkat yang optimal.

"Penggunaan BBM dengan oktan rendah berpotensi menimbulkan deposit seperti bekas pembakaran, bila sudah menumpuk di ruang katalitik maka sensor O2 akan memberikan sinyal yang membuat indikator engine cek pada indikator menyala. Kalau untuk kerusakan sistem injeksi juga bisa terjadi, namun jarak waktunya lebih lama," kata Arifani.

Menurutnya, langkah tepat adalah tidak terus-menerus mengkonsumsi BBM oktan rendah untuk mobil premium. Baiknya setelah sampai di kota tujuan cari bengkel terdekat untuk melakukan pembersihan (flashing) pada tangki lalu kembali menggunakan bahan bakar yang dianjurkan.