Jangan Pakai Air Mineral buat Isi Radiator

Stanly Ravel - Rabu, 23 Maret 2016 | 07:45 WIB

(Stanly Ravel - )


Jakarta, Otomania - Pada dasarnya radiator coolant pada cairan radiator di mesin mobil dan motor berguna sebagai pendingin yang bisa menjaga temperatur suhu mesin. Melihat dari funginya, maka jenis cairan radiator pun berbeda dengan air mineral.

Sayangnya sebagian besar masyarakat sampai saat ini masih menggangap bahwa dengan menggunakan air mineral biasa, sudah cukup tidak perlu cairan khusus untuk radiator. Padahal hal ini salah untuk dilakukan, ada efek buruk jangka panjang yang bisa merugikan.

"Cairan radiator coolant itu menggandung konsentrat propylene yang berfungsi untuk mendinginkan suhu dan bisa tahan lama (tidak menguap) karena memiliki titik didih yang lebih tinggi. Sedangkan air mineral itu sifatnya mudah menguap saat suhu tinggi," ucap Heru Wibowo, Workshop Manager PRO-Q kepada Otomania, Senin (21/3/2016).

Selain dari sifat yang cepat menguap, keburukan dari air mineral lainnya adalah sifat korosif. Artinya bisa membuat pengikisan dan karat pada bagian dalam dan pipa radiator. Bila sudah terjadi karat maka mobil juga rentan mengalami overheat. Hal ini bisa dipastikan karena adanya endapan karat yang masuk dalam sistem pendingin dari radiator, termasuk selang dan thermostat.

Semakin tebal keraknya, maka bisa meyebakan dua hal. Mulai dari penghambatan aliran air sampai penghambatan terjadinya pertukaran kalor antara mesin dan cairan pendingin yang membuat suhu cepat panas akibat tidak efektifnya sistem pendinginan.

"Efek karat dan korosi yang timbulkan dari pemakaian air mineral untuk cairan radiator itu baru akan terasa dalam jangka panjang, tidak langsung. Saat karat sudah timbul pada internal sistem pendingin mesin maka kerusakan tidak bisa dihindari, dan yang pasti dana perbaikan juga jauh lebih mahal dibandingkan perawatan mengganti radiator coolant secara berkala," ucap Heru.