Virus "Gatel" Menjangkit Pengguna Jalan

Stanly Ravel - Rabu, 16 Maret 2016 | 17:01 WIB

(Stanly Ravel - )


Jakarta, Otomania - Kampanye Gerakan Tertib Berlalu Lintas (Gatel) Otomania.com kembali turun ke jalan. Kali ini Rabu (16/3/2016) perempatan lampu lalu lintas di Palmerah, Jakarta, jadi sasaran. Kegiatan sebelumnya awak redaksi berpartisipasi pada Operasi Simpatik bersama Polres Jakarta Barat.

"Kampanye turun ke jalan ini akan terus dilakukan terutama di daerah-daerah yang kerap terjadi pelanggaran. Sebagai langkah awal kami memulai dari lingkungan terdekat. Diharapkan pengemudi bisa lebih bijak memaknai arti keselamatan di jalan yang dimulai dari tertib berlalu lintas," kata Aris Harvenda, Managing Editor Otomania.com, di sela-sela acara.

Dibantu dengan beberapa gadis cantik, kampanye Gatel kali ini mengajak penguna jalan untuk berada di belakang garis putih ketika berhenti di perlintasan lampu lalu lintas. Hal ini sangat penting menggingat sudah banyak pengguna kendaran bermotor yang melanggar, tanpa disadari hal tersebut menggangu pengguna jalan lain, terutama pejalan kaki yang ingin menyebrang.

Ketika lampu merah menyala, para wanita cantik ini membentangkan tali sepanjang garis pembatas, sambil membawa papan bertuliskan "Berhentilah di Belakang Garis Zebra Cross". Bila ada yang melewati garis maka salah satu kru akan menyambangi untuk memberi informasi.

Awak redaksi juga menawarkan pengendara untuk ikut mendukung kampanye ini dengan menempelkan stiker di mobil atau motor mereka.

Salah satu pengguna jalan mengaku bahwa adanya gerakan ini sangat baik, karena selain mengajak tertib juga bisa menyadarkan pengguna kendaraan bermotor untuk menghargai pejalan kaki.

"Kalau saya sih dukung, karena memang yang pakai motor dan mobil saat ini kurang perhatian sama yang jalan kaki. Selain nyebrang susah, trotoar tempat jalan saja juga sering diambil seenaknya," ucap Yuni yang sedang mengantar anaknya sekolah.

Hal senada juga diucapkan Kurnia, pejalan kaki yang hendak menyebrang ke arah Senayan. Menurutnya untuk menyebrang di kawasan ini cukup rawan, bahkan kadang dirinya harus mengalah dengan kendaraan bermotor.

"Khususnya untuk motor, sering sekali malah berhenti di garis penyebrangan, bahkan sampai ada yang di dapan, kita yang mau nyebarang ini jadi susah," ujar Kurnia.

Dari hasil pantauan Otomania, selama satu jam lebih kampanye digelar masih banyak yang melanggar dengan berhenti di depan garis. Bahkan sesekali kendaraan umum seperti Kopaja justru berhenti di paling depan yang membuat pejalan kaki harus melintas di belakangnya.