"Dosa" Pengendara Mobil Matik

Stanly Ravel - Kamis, 21 Januari 2016 | 09:29 WIB

(Stanly Ravel - )


Jakarta, Otomania - Mobil bertransmisi otomatis saat ini cukup digemari, apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta. Salah satu alasannya adalah karena lebih praktis dan tidak membuat kaki cepat pegal ketika dihadapi kemacetan panjang.

Meski lebih mudah secara pengoprasian tapi masih banyak perlakuan yang salah ketika mengendarainya. Salah satu yang paling disepelekan adalah membiarkan transmisi pada posisi D (drive) saat berhenti lama, tanpa disadari kondisi ini sangat berbahaya bila sering dilakukan.

"Yang paling sering terjadi saat berhenti lama, orang lebih suka membiarkan posisi tuas pada posisi D dan menahan pakai rem agar mobil tidak bergerak. Hal ini sangat salah, karena membuat transmisi bekerja ekstra di saat suplai udara terbatas, yang membuat kualitas pelumas juga cepat berkurang," ucap Arifani Perbowo, Logostic and Production General Manager Kia Mobil Indonesia (KMI) saat dihubungi Otomania, Rabu (20/1/2016).

Menurutnya, saat mobil berhenti tapi tuas dibiarkan pada posisi D maka hubungan antara mesin dan transmisi tetap berjalan meski sudah tertahan rem. Karena terhubung, transmisi pun akan terus bekerja pada torque converter, padahal saat mobil diam tidak banyak asupan udara segar yang membuat kondisi oli transmisi harus bekerja ekstra di suhu yang panas.

"Bukan hanya itu, kerugian lain juga membuat konsumis bahan bakar terus berjalan karena mesin dan transmisi masih terkoneksi, akibatnya timbul keborosan. Bahkan juga berpengaruh pada usia pakai kampas rem yang cepat habis karena harus menahan laju kendaraan," paparnya.

Oleh karena itu, biasakan memindahkan tuas transmisi ke posisi N saat mobil berhenti lama, baik saat lampu merah atau ketika menunggu dikemacetan. Jangan biarkan tuas terus berada di posisi D terlalu lama ketika berhenti.