Kisah di Balik Perputaran Ban Vulkanisir

Aditya Maulana - Kamis, 3 Desember 2015 | 08:21 WIB

(Aditya Maulana - )


Jakarta, Otomania
– Bagi yang belum tahu, ban vulkanisir/suntikan merupakan ban yang sudah direkondisi ulang pada bagian grip (kembangan) sehingga tampak seperti baru.

Di Sentra pelek dan ban bekas Cideng Timur, Jakarta Pusat, banyak pedagang yang menjualnya, tapi tidak dijual sembarangan.

Pengakuan Dono, salah satu pedagang pelek dan ban bekas di Cideng Timur, ban vulkanisir itu hanya dijual untuk gerobak. Hal itu dilakukan karena dia tidak ingin membuat konsumennya celaka.

“Kalau digunakan di gerobak kan digunakan untuk mengangkut barang, bukan manusia seperti kendaraan lain. Karena, Anda tahu kalau kualitas ban vulkanisir itu tidak layak,” kata Dono saat ditemui Otomania belum lama ini di tokonya.

Tapi, menurut Dono tidak semua konsumen yang datang memiliki uang yang lebih. Ada saja pembeli memilih ban vulkanisir. Jika sudah seperti itu, Dono tidak bisa melarangnya.

“Kita sebelumnya sudah jelaskan dulu bahayanya pakai ban vulkanisir. Jika terjadi apa-apa, kita sudah bilang ke konsumen jangan menuntut kepada kami dan silahkan tanggung sendiri karena maunya konsumen seperti itu,” ujarnya.

Harga

Bicara mengenai harga, Dono menjual ban vulkanisir rata dengan banderol Rp 100.000 sampai Rp 150.000. “Khusus ban vulkanisir dari ring 15-17 harganya kita samakan. Pokoknya semua dipukul rata,” kata Dono.