Lima Perlakuan Khusus Mobil pada masa "Inreyen"

Stanly Ravel - Rabu, 28 Oktober 2015 | 08:27 WIB

(Stanly Ravel - )


Jakarta, Otomania - Masa inreyen atau Break-in menjadi masa awal yang wajib dilalui setiap pemilik mobil baru. Proses adaptasi terjadi antar komponen mesin untuk saling menyesuaikan antara satu dengan lainnya.

Pengetahuan memperlakukan kendaraan dalam status inreyen dengan benar harus dimiliki agar mesin bisa bertahan lama. "Tidak boleh sembarangan langsung digeber, harus bertahap dan ada prosesnya," ucap Arifani Perbowo, Logostic and Production General Manager Kia Mobil Indonesia (KMI) saat dihubungi Otomania, Selasa (27/10/2015).

Menurutnya, selama masa inreyen pemilik mobil tidak boleh kasar saat mengemudikan mobil, hal ini penting agar proses pelumasan berjalan sempurna ke tiap komponen. Untuk itu dirinya juga memberikan lima tips cara berkendara di masa inreyen mobil.

1. Saat pemakaian pertama, hindari berkendara langsung pada kecepatan tinggi. Selain dari faktor komponen, karet ban juga belum elastis sehingga tidak bisa menapak dengan sempurna di aspal. Perlu diketahui pula agar ban bisa menapak sempurna dibutuhkan temperatur tertentu.

2. Hindari berkendara dengan RPM tinggi. Pada mesin baru, masih terdapat gram (ampas besi) yang belum turun dengan maksimal, bila berkendara dengan tekanan tinggi pada gas, bisa membuat gram tersebut justru terangkat ke atas.

3. Khusus untuk mobil manual, juga wajib mengendarakan mobil dengan normal. Artinya tidak memindahkan gigi pada RPM tinggi atau melakukan perpindahan gigi dengan cepat.

4. Segera lakukan pergantian oli ketika jarak tempuh mobil sudah menyentuh 1.000 km. Hal ini berfungsi untuk membuang sisa gram yang ada di mesin baru.

5. Ketika berkendara dengan mobil baru, jangan melakukan pengereman secara mendadak. Ini terkait dengan nomor satu akibat faktor ban yang belum elastis sehingga daya cengkram pun masih minim.

"Ini bisa diterapkan untuk semua mobil, baik bensin atau diesel, manual dan otomatis," kata Arifani, menutup pembicaraan.