Scorpio "Nyeleneh Rotreng Style" dari Jagakarsa

Stanly Ravel - Minggu, 16 Agustus 2015 | 08:02 WIB

(Stanly Ravel - )


Jakarta, Otomania - Sebagian orang menyukai konsep modifikasi bergenre old school. Hampir tidak ada acuan baku yang menetapkan standar pasti untuk modifikasi ini, selain dari kesan klasik yang menjadi bumbu utamanya.

Bicara selera, old school memiliki banyak tema yang bisa diaplikasi. Mulai dari konsep no rules, brut, rotreng, scramble, cafe racer, boober dan lainnya. Namun yang pasti saat ini tidak sedikit pengemarnya, bahkan para builder pun berlomba menampilkan karya terbaik yang memiliki nilai lebih.

Salah satunya, Topo Godel Atmojo dari Tauco Custom. Pemain kawakan yang sudah lama bergaul dengan beragam tema modifikasi ini kembali unjuk gigi melalui karya terbarunya di Yamaha Scorpio Z lansiran 2005. Si kuda besi berwujud unik ini sengaja diciptakan menjadi ikon dalam merayakan 21 tahun bengkel modifikasinya.


Rotreng Style
Meski mengambil konsep old school, tapi Topo menerapkan aliran Rotreng Style yang menjadi acuannya. Aliran ini konon banyak diterapkan pada motor-motor perang dunia ke II yang mengandalkan gaya sasis rigid dan springer. Mengejar konsep ini, hal ekstrem yang dilakukan adalah dengan membongkar habis sasis orisinil dan digantikan dengan rangka baru yang dirangkainya sendiri.

"Bosan dengan tema yang itu-itu saja, lagian juga tidak harus mengikuti zaman. Rotreng ini tema klasik yang bikin unik karena jarang yang buat," ujarnya kepada Otomania, Jakarta (14/8/2015).

Pengerjaan rangka ini cukup menyita waktu, pasalnya harus dilakukan secara persisi. Sedangkan untuk mengimbangi tampilannya, sepatbor depan belakang juga diolah sendiri menggunkan plat galvanis 0,8 mm. Untuk hal lain dikerjakan melalui custom sampai kanibalisasi produk aftermarket.


Konsep rotreng dipertegas dengan sistem shock yang menggunkan model spinger dengan kolaborasi per belakang dari Yamaha Jupiter MX. Ban berdimensi besar tetap menjadi ciri modifikasi old school. Kaki-kaki dibuat seimbang dengan ukuran nyaris sama, baik depan maupun belakang. Balutan ban Swallow 400/18 memanfaatkan pelek 300x18 untuk depan dan 350x18 di belakang.

Paling 'nyeleneh' adalah penempatan tangki bensin yang letaknya ada di bawah rangka seperti menggantung. Sesuatu yang tak lazim diterapkan tapi memiliki nilai unik yang tinggi. "Ini juga bikin sendiri, tangki model old school tapi dipasang di bawah biar unik dan keren sendiri," ujar pria jenaka ini.

Selesai dengan urusan rangka, tinggal merapihkan beberapa bagian untuk mematangkan konsep rotreng. Mulai dari tas kulit yang diselempangkan di bagian belakang ala sepeda motor BSA, jok spinger keluaran Ethana Performance, knalpot krom garapan Kwangen Exhaust Specialist, sampai lampu utama aftermarket.


"Motor ini jadi ikon bengkel, karena selesai pas di tanggal 1 Agustus kemarin. Tepat dengan hari jadi Taucho custom," ucapnya sebagai penutup.