Ancaman Tersembunyi pada Pengguna Mobil "Matik"

Ghulam Muhammad Nayazri - Jumat, 14 Agustus 2015 | 08:38 WIB

(Ghulam Muhammad Nayazri - )


Jakarta, Otomania
– Faktanya memang sebagain besar mobil yang terjual di Indonesia masih di dominasi dengan sistem transmisi manual (dengan kopling). Tapi, para pengguna mobil dengan transmisi otomatis (matik) juga semakin bertambah, terutama konsumen di kota-kota besar. Mobil dengan transmisi otomatis menawarkan kinerja lebih praktis, terutama ketika harus menghadapi kemacetan yang dijumpai hampir setiap hari.

Bicara mobil matik, ternyata ada ancaman yang tersembunyi bagi pemiliknya jika tidak memperhatikan kondisinya. Transmisi matik sangat bergantung pada volume pelumas yang terkandung dalam pengoperasiannya. Jangan pernah sekali saja, membiarkan transmisi matik kekurangan oli sampai di bawah batas minimum. Akibatnya, penyaluran tenaga dan kecepatan putaran mesin akan terganggu.

“Kurangnya volume oli matik akan mengakibatkan hilangnya kualitas tekanan oli, dampak terparahnya kendaraan tidak akan bisa berjalan,” ujar Saiful Anwar, Wakil Kepala Bengkel Plaza Toyota Pemuda Jakarta Timur, Kamis (13/8/2015).

Saiful menambahkan, tanda-tanda lain yang terjadi akibat dari kekurangan oli matik yaitu hilangnya tenaga pada kendaraan, atau bisa juga disebut hilang tarikan. Kemudian muncul hentakan ketika transmisi dipindah.

“Tiga tanda tersebut yang biasanya jadi dasar bagai pemilik kendaraan untuk segera memeriksa kondisi volume oli matik. Jika Anda yang termasuk tidak sensitif dengan hal-hal seperti ini, wajib mengikuti rutinitas pemeriksaan pada buku panduan servis. Jang sampai akhirnya oli mengering dan sistem transmisi menjadi rusak parah,” ujar Saiful.

Sebaiknya, lanjut Saiful, rajin-rajin periksa volume oli matik secara berkala dua minggu sekali. Untuk memastikan volume tetap berada di atas batas minimum.

“Meski masa penggantiannya sekitar 100.000 km, ada baiknya tetap terus diperiksa dua minggu sekali, kemudian secara rutin ke bengkel untuk memeriksa kondisi oli beserta transmisinya di setiap 10.000 km sekali. Sehingga ketika terjadi kebocoran oli matik, akan bisa cepat diatasi, sebelum sampai pada kerusakan lebih parah,” ucap Saiful.

Saiful menuturkan, jika kondisi oli matik tidak diperhatikan dan menyebabkan kerusakan parah, biaya perbaikan untuk komponen transmisi pada mobil baru bisa mencapai Rp 21 juta. Mahal bukan!