"Mengulik" Kebolehan Mobil Murah Datsun

Stanly Ravel - Rabu, 20 Mei 2015 | 08:33 WIB

(Stanly Ravel - )

Jakarta, Otomania - Pada segmen mobil murah dan ramah lingkungan (low cost green car/LCGC), Datsun Go Panca menjadi produk terakhir yang dipasarkan di tanah air. Situasi ini sebenarnya bisa menjadi keuntungan bagi PT Nissan Motor Indonesia (NMI) selaku agen tunggal pemegang merek Datsun di Indonesia, supaya bisa mencuri celah kekurangan rival yang lebih dulu hadir.

Salah satu kelebihan utama yang ditawarkan Go Panca, adalah desain eksterior yang terlhat lebih sporty ketimbang kompetitor lain, seperti Agya, Ayla, Brio Satya, atau Suzuki Karimun Wagon R. Sah, jika dikatakan lebih segar, karena terasa lebih baru di pasaran.

Sayang, kali ini Otomania kebagian mencoba varian terendah dari mobil murah Datsun, tipe T. Varian ini nyaris tanpa spesial, karena minus tambahan aero kit, seperti yang ada  pada varian tertinggi Datsun Go Panca. Termasuk penampilan bagian belakangnya, masih terlihat minimalis meski sudah dilengkapi tail gate beserta stop lamp LED.

Paling miris melihat kaki-kakinya. Tipe terendah ini hanya dibekali pelek kaleng ditutup dop berlogo Datsun, diameter 13 inci.

Kabin Sederhana

Dengan banderol Rp 100,15 juta on the road Jakarta, varian terendah ini juga dilengkapi interior seadanya. Minus sistem audio dan jok berbalut kain (fabric). Untuk mengakomodasi keinginan pengemudi dan penumpang mendengarkan musik, disediakan sistem Mobile Docking Station (MDS) di dasbor. Fungsi kelengkapan ini pada dasarnya hanya berupa tatakan ponsel dengan lubang AUX-In dan USB. Artinya, lantunan lagu yang diputar di ponsel bisa disalurkan ke speaker kabin lewat koneksi ini.

Guna mengompensasi kabin terasa lebih lapang, tuas transmisi Go Panca terintegrasi di dasbor, termasuk pemilihan rem tangan model tarik-puntir, khas mobil jadul. Jok depan juga dibuat menyambung antara sisi pengemudi dan penumpang.

Meski memiliki ruang relatif lapang, sayangnya ketebalan busa jok tidak diperhatikan, membuat posisi duduk kurang nyaman. Cap mobil murah, sepertinya melekat pada minimnya faktor kenyamanan di sini.


stanly
Di baris kedua jangan heran bila tak menemuni tombol power window, karena untuk membuka dan menutup jendela harus menggunakan engkol. Tampilan minimalis juga terlihat dari balutan karpet di dek bawah yang cukup tipis.

Upaya Datsun Indonesia untuk memberikan sentuhan mewah terealisasi dengan layar digital (multi-information display/MID) pada panel meter. Fitur ini memberikan informasi cukup lengkap bagi pengemudi, mulai dari jarak tempuh, konsumsi BBM, sisa jarak tempuh, dan lain sebagainya.


Lebih Responsif

Kelebihan lain yang coba ditawarkan Datsun pada mobil murahnya, adalah sumber tenaga yang dibekalinya. Datsun Go Panca dibekali mesin tiga silinder berkapasitas 1.2L, menghasilkan tenaga 68 tk dan torsi 104 Nm. Kapasitas mesin ini lebih besar ketimbang, rival lain yang banyak memilih mesin 1.0L.

Waktu Otomania mengajak Go Panca keliling Ibukota, ternyata respon yang diberikan cukup responsif. Kemampuan ini ideal dalam menghadapi kondisi 'stop n go' di kemacetan Jakarta. Cukup menekan sedikit pedal gas, putaran tenaga sudah bisa dirasakan.

Saat menjajal kecepatan tinggi melintasi tol Jagorawi. Selesai mengambil kartu tol, pedal gas langsung dibejek. Hasilnya, kinerja mesin langsung melonjak, membuat mesin sedikit berteriak. Tenaga puncak mudah diperoleh sampai jarum takometer menunjuk level 2.000-2.500 rpm, untuk posisi gigi satu sampai tiga.

Masuk ke gigi empat, "nafas" mesin cukup panjang hingga mampu mencapai kecepatan 120 kpj dengan isi tiga penumpang. Sayang, kecepatan ini diraih sambil ditemani getaran pada setir dan suara bising yang cukup mengganggu telinga.

Waktu diajak bermanuver, Datsun Go Panca punya bantingan suspensi yang tergolong nyaman, tidak terlalu lembut sehingga handling yang lebih stabil. Sedangkan untuk konsumsi bahan bakar saat diuji berjalan 100 km dalam kondisi kombinasi menghasilkan 16,8 kpl di MID.